Kamis, 21 Juni 2012

Tugas Softskill

INFLASI

Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).

Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
  1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
  2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
  3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
  4. Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

Dampak negatif dari Inflasi adalah menyebabkan barang-barang menjadi langka dipasaran karena para konsumen cemas dengan kenaikan harga barang di keesokan harinya sehingga mereka terkena syndrom "hoarding of goods" ( menimbun barang-barang/penimbunan ). Karena mereka lebih tenang menyimpan barang-barang kebutuhan daripada uang. Karena berganti bulan berganti pula harga sehingga menyimpan uang sama dengan menyimpan masalah. Hal ini seperti ini sedang terjadi di Zimbabwe saat ini. Sungguh sangat mengerikan dampak dari hyperinflasi ini.

Sebagai contoh, seorang pemuda memegang uang kertas pecahan 50 Milyar Dollar Zimbabwe. Dengan uang kertas nominal sebesar itu, hanya bisa dibelikan 1 kotak korek api. Harga 1 botol Coca Cola adalah 300 Milyar Dollar Zimbabwe. Bayangkan saja!

Ketika uang kertas sudah mulai tidak berlaku, sebagai gantinya mereka hanya menggunakan emas. Mereka menambang emas, dan untuk bisa makan sehari mereka harus bisa mencari emas setidaknya 0.3 gram sehari.

TABEL INFLATION RATE INDONESIA 

inflasi Indonesia

Dari tahun 1980 hingga 2008, tingkat inflasi tahunan rata-rata di Indonesia adalah 11,1%. Dalam kurun waktu tersebut, tingkat inflasi tertinggi terjadi pada tahun 1998, yaitu 77,5% yang disebabkan oleh krisis moneter yang melanda negeri ini.

Apa dampak inflasi terhadap harga-harga di pasaran?

Cobalah membuat gambaran secara umum, tidak perlu pakai istilah ekonomi yang susah. Saat tahun 2009 jika ingin membeli makan siang di warung, harga sepiring nasi plus lauk ( misal: telur ) adalah Rp.5000. Jika ditambah membeli teh manis jadi 6 ribu rupiah. Cobalah anda ingat baik-baik harga sepiring nasi 5 tahun atau 10 tahun yang lalu katakanlah tahun 1999. Pada saat itu, sepiring nasi rames dengan telur masih antara 1500 rupiah sampai dengan 2000 rupiah dan untuk bayar uang kos (untuh para mahasiswa) masih 25 ribu perbulan.
Katakanlah saat ini usia anda 30 tahun dan bekerja di perusahaan swasta. Anda masih memiliki 25 tahun masa kerja sebelum pensiun. Dengan asumsi tingkat inflasi sebesar 11.1% pertahun maka harga sepiring nasi yang sekarang 6000 Rupiah, maka 25 tahun lagi saat anda pensiun, harga sepiring nasi menjadi 75 ribu Rupiah. Angka tadi baru hasil perkiraan minimum setelah saya kalkulasi dengan Excel. Bisa jadi harga sepiring nasi 100 ribu rupiah. Mengejutkan sekali bukan? Kalau saat ini untuk biaya makan sebulan Rp.1.500.000 , maka 25 tahun lagi biaya untuk makan menjadi Rp.18.300.000 perbulan. Itu baru untuk kebutuhan hidup pokok yaitu makan. Berapakah total biaya yang anda habiskan perbulan saat ini? Rata-rata saat ini untuk hidup layak, dibutuhkan sekitar 5 juta perbulan. Itu sudah layak dengan catatan anda tidak memiliki hutang sehingga anda bisa menabung. 25 tahun yang akan datang setidaknya untuk bisa hidup dengan standard hidup layak, andak membutuhkan penghasilan sebesar 60 juta perbulan.

Apakah saat ini anda ikut program JHT atau semacam program pensiun? Berapa kira-kira yang akan anda dapat saat pensiun nanti? Cukupkah untuk memenuhi kebutuhan hidup anda sebulan? Tentu sebagian besar akan ragu dan pesimis.

Saat ini kita tidak perlu membahas kelemahan uang kertas atau menyalahkan penggunaan uang kertas, yang paling penting saat ini adalah bagaimana caranya mengamankan harta kita dari dampak inflasi. Tentunya dengan investasi. Bisa berinvestasi dengan saham, tanah, ataupun emas. Harga tanah tiap tahun juga mengalami kenaikan, kalau anda tidak bermaksud menjual anda pun bisa menyewakannya atau memfungsikan untuk agrobisnis. Kalau anda membeli emas, maka bisa dipastikan harga emas makin mahal. Mahalnya emas bisa disebabkan oleh makin langkanya sumber daya emas, tidak imbangnya supply dan demand, dan tidak percayanya masyarakat terhadap uang kertas. Dan besarnya kenaikah harga emas bisa diluar perkiraan kita, karena emas merupakan sarana lindung nilai ( Hedging ) dan pembelinya adalah masyarakat di seluruh dunia bahkan bank-bank central memborong emas untuk cadangan devisa negara mereka. Emas mendapat gelar Zero Inflation. Karena nilainya tetap dari masa ke masa. Zaman Nabi 2000 tahun yang lalu harga seekor kambing 1 Dinar, sekarang masih 1 Dinar. Sama bukan? Karena dinar itu emas.

Sumber:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi
2.http://www.ayo-investasi.com/inflasi.html